10 Gelandang Terbaik Di Piala Dunia 2014

Depobola - Gelaran Piala Dunia 2014 usai sudah dan menampilkan Jerman sebagai kampiun setelah menaklukkan tim kuat, Argentina di partai final dengan skor tipis 1-0. Tampilnya pasukan Joachim Low sebagai kampiun, sekaligus menorehkan sejarah baru, yakni menjadi tim Eropa pertama yang berhasil menaklukkan Benua Amerika.

Kendati sudah berakhir, aroma Piala Dunia tampaknya masih terasa, khususnya di Indonesia. Perbincangan mengenai pemain terbaik pun masih menjadi topik hangat. Dan berikut rangkuman 10 gelandang terbaik.

Juan Cuadrado, Kolombia

juan-cuadrado

Tak ada yang mengira Cuadrado akan tampil mengejutkan bersama Kolombia. Pemain Fiorentina itu bermain penuh tipu muslihat dan berhasil menyarangkan satu gol dan empat assist. Penampilan menawannya inilah yang kemudian membuatnya dibanjiri berbagai pujian.

Tak mengherankan apabila pemain berusia 26 tahun ini masuk ke dalam daftar gelandang terbaik di pesta akbar Piala Dunia 2014. Kolombia sendiri tampil penuh kejutan dengan melaju ke putaran perempatfinal.

Kevin de Bruyne, Belgia

kevin-de-bruyne

Pemain selanjutnya merupakan bintang masa depan Belgia, Kevin de Bruyne. Pemain berusia 23 tahun itu memang tak bermain konsisten di tiga laga penyisihan grup. Namun, cukup menjanjikan saat melakoni laga kontra Amerika Serikat di babak 16 besar.

Di duel lawan Amerika Serikat di Itaipava Arena Fonte Nova, Salvador, Bahia, De Bruyne menjadi sorotan berkat gol tunggalnya di menit ke-93. Dengan satu gol dan dua assist, rasanya pantas menempatkan pemain Chelsea itu sebagai salah satu gelandang terbaik.

Ángel Di María, Argentina

angel-di-maria

Untuk nama yang satu ini, tampaknya tak terlalu mengejutkan. Ángel Di María sudah menjadi bintang sejak beberapa tahun lalu. Penampilan menawannya bersama Real Madrid ternyata juga menular bersama negaranya, Argentina di gelaran Piala Dunia yang diselenggarakan di Brasil.

Permainan Di María merupakan kolaborasi antara energi dan daya serang. Tak mengherankan apabila para pemain belakang lawan kerap kerepotan dan bahkan terkesan sulit untuk menghentikan pergerakannya.

Sayang, di laga pamungkas Piala Dunia 2014, pemain berusia 26 tahun itu hanya menyaksikan perjuangannya dari pinggir lapangan lantaran mengalami cedera. Apabila sang pemain diturunkan, bukan tak mungkin hasil akhir justru menjadi milik Abiceleste.

Héctor Herrera, Meksiko

hector-herrera

Seandainya Meksiko dapat mengalahkan Belanda di babak 16 besar, mungkin Herrera akan menjadi salah satu pemain yang mengundang perhatian. Banyak kalangan menilai bahwa pemain berusia 24 tahun itu merupakan salah satu kunci sukses El Tri di gelaran Piala Dunia 2014.

Sayang, Meksiko harus mengakui keunggulan pasukan Louis van Gaal usai tertunduk, 1-2. Padahal, pasukan Miguel Ernesto Herrera lebih dulu mencetak gol, yakni pada menit ke-48 lewat gol Giovani dos Santos.

Namun, pada menit ke-88, Wesley Sneijder berhasil menyamakan kedudukan. Dan mimpi Meksiko harus musnah karena pada injury time, Klaas Jan Huntelaar sukses mengoyak gawang Francisco Guillermo Echoa, sekaligus menutup laga di Estádio Governador Plácido Aderaldo Castelo, Fortaleza dengan skor 1-2.

Jermaine Jones, Amerika Serikat

jermain-jones

Jones menjadi salah satu dari 23 pemain di skuad Amerika Serikat yang boleh dikatakan paling menonjol. Pelatih Jurgen Klinsmann bahkan selalu mempercayai pemain veteran berusia 32 tahun untuk tampil sebagai starter.

Kehadirannya memberikan soliditas penting bagi lini tengah The Yanks. Jones juga turut mencetak gol saat Amerika Serikat menahan imbang Portugal 2-2 di babak penyisihan Grup G.

Toni Kroos, Jerman

toni-kroos

Dua gol dan tiga assist tampaknya cukup menjadi bukti untuk kehebatan pemain tengah Jerman, Toni Kroos. Pemain Bayern Munich itu menjadi penghubung antara lini tengah dan lini serang. Boleh dibilang, pemain berusia 24 tahun itu menjadi sosok terpenting dalam skuad Der Panzer.

Banyak kalangan menilai jika Kroos merupakan sosok tepat untuk dianugerahi gelar Golden Ball –pemain terbaik di pentas Piala Dunia. Penghargaan itu sendiri jatuh kepada bintang Argentina, Lionel Messi dan hingga saat ini menuai perdebatan.

Javier Mascherano, Argentina

javier-mascherano

Penampilannya yang mobile, membuat Javier Mascherano masuk dalam daftar gelandang terbaik di Piala Dunia 2014. Meski ia kerap diplot sebagai bek sejak bergabung dengan Barcelona, namun sepanjang gelarang Piala Dunia, Mascherano mengingatkan kepada dunia bahwa ia masih menjadi salah satu jangkar terbaik di lini tengah.

Paul Pogba, Prancis

paul-pogba

Paul Pogba yang berkolaborasi apik dengan Blaise Matuidi membuat sektor tengah Prancis sulit ditembus pemain lawan. Jerman sendiri terlihat kesulitan menembus lini tengah Ayam Jantan di babak perempatfinal. Meski akhirnya, pasukan Joachim Low yang memastikan tampil sebagai pemenang.

Kontribusi besar dan penampilan impresifnya, membuat bintang Juventus ini dianugerahi penghargaan pemain muda terbaik, mengalahkan dua pemain muda lain, yakni Memphis Depay (Belanda) dan Raphael Varane (Prancis).

James Rodríguez, Kolombia

james-rodriguez

Kolombia menempatkan dua pemainnya dalam daftar gelandang terbaik di Piala Dunia 2014. Sebelumnya ada nama Juan Cuadrado, kini ada nama lain, James Rodríguez –pemain yang namanya melambung berkat golnya ke gawang Uruguay di babak 16 besar.

Pemain berusia 23 tahun itu juga membuktikan kualitasnya dengan mencetak enam gol di sepanjang turnamen empat tahunan ini, sekaligus menempatkan namanya sebagai topscorer Piala Dunia kali ini.

Padahal, Rodríguez tampil lebih sedikit dibandingkan bintang Jerman, Thomas Müller, winger lincah asal Belanda, Arjen Robben, dan superstar Argentina, Lionel Messi.

Bastian Schweinsteiger, Jerman

bastian-schweinsteiger

Posisi terakhir ditempati oleh gelandang tangguh Jerman, Bastian Schweinsteiger. Mobilitasnya di sektor tengah membuat Schweini–begitu ia biasa disapa, layak berada di 10 daftar gelandang terbaik di Piala Dunia tahun ini.

Terutama bila melihat penampilannya di laga final kontra Argentina, Senin dini hari lalu. Pemain Bayern Munich itu terlihat pantang menyerah, bahkan harus bercucuran darah. Meski begitu, Schweinsteiger tetap bermain dan tak sekalipun melambaikan tangan agar sang pelatih , Joachim Low menggantinya dengan pemain lain.